Depok - Pepatah mengatakan buku
adalah jendela dunia oleh karena itu membaca menjadi hal yang sangat penting
untuk mewujudkan masa depan. Siang itu di kala matahari terik ada hal terbesit
dalam hati untuk mengetahui tentang keberadaan perpustakaan Depok yang terletak
di Balai Kota Depok Jl. Margonda Raya No 54 berada di lantai dua.
Perpustakaan Umum yang di resmikan pada tanggal 27 April 2015 oleh Dr. Ir.H. Nurmahmudi Isma’il, M.Sc selaku mantan walikota Depok, ini cukup untuk membuat minat pembaca tertutama pada kalangan pelajar Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas semakin menarik untuk berkunjung untuk membaca buku dan mengerjakan tugas (3/6). Pada saat tiba di depan Balai Kota Depok sudah terlihat dari depan pintu gerbang berada disebelah kiri hal ini cukup efisien dan tak membuang waktu untuk menemukan perpustakaan itu.
Perkotaan tak lepas dari jumlah
penduduk masalah kriminal, ekonomi dan sumber daya alam. Jika memang kota itu
cukup membuat terobosan baru dan diterima oleh warganya pasti suatu saat nanti
akan terciptanya keselarasan dalam berkehidupan. Depok memang masih menjadi
daerah yang berkembang yang dahulunya kotamadya sekarang berubah menjadi Kota
Depok.
Kota cyber itu lah hal yang pertama kali di temui pada saat masuk dikota
Depok. Sepertinya pemerintah sudah sadar betul tentang hal teknologi namun
masih kurangnya fasilitas ruang terbuka hijau, dan malah banyak pusat
perbelanjaan serta hotel dan apartemen membuat Depok semakin macet dan panas,
ruang terbuka hijau ada namun masih minim fasilitas.
Hal ini cukup berpeluang untuk warga
Depok menghabiskan waktu luang. Najwa Shihab selaku Duta Baca saat ini mengatakan
bahwa Indonesia berada diposisi urutan ke-60 di dunia. Menonton acara talkshow di salah satu stasiun televisi
swasta membuat berpikir untuk mengetahui
seberapa besar minat pembaca dikalangan mahasiswa yang masih aktif dan
berdomisili di Depok. Dari sepuluh orang yang berasal dari berbagai jenis
Universitas dan jurusan hanya ada dua orang yang saja yang berkunjung ke perpustakaan
dalam hal yakni berkunjung ke perpustakaan adalah hal yang menyenangkan
memanfaatkan fasilitas untuk membaca, meminjam buku, serta berdiskusi. Sisanya
hanya rentan waktu seminggu dua kali bahkan ada yang berkepentingan untuk
memenuhi tugas dari kampus.
Pentingnya membaca membuat Kantor
Arsip dan Perpustakaan Depok bertekad meningkatkan minat baca masyarakat Depok.
Visi misi Depok saat ini yaitu Unggul, Nyaman, dan Religius. Menambah koleksi
buku serta sarana prasarana pendukung. Tak hanya buku di Perpustakaan Umum ini
pun terdapat arsip sebagai sumber informasi bukti otentik dalam hukum dan bahan
penelitian berada diposisi sebelah kanan pintu masuk. Terdapat berbagai piala,
piagam, dan medali arsip lainnya yang diselamatkan untuk memberi pengetahuan
kepada generasi yang akan datang.
Berkembangnya Depok sebagai kota
yang terletak antara Jakarta dan Bogor. Membuat Depok menjadi wilayah yang
strategis dan kebanyakan warganya adalah pindahan dari Ibukota. Depok lahir
pada 27 April 1999 terdiri dari 11 kecamatan 63 kelurahan dan di Pimpin oleh
Walikota Depok saat ini KH. Dr.Muhammad Idris MA dan Wakil Walikota Pradi
Supriatna. Yang mencanangkan programnya yakni Depok sahabat masyarakat, sahabat
Usaha Kecil dan Menengah, sahabat petani, sahabat muda-mudi, sahabat anak dan
remaja, sahabat lansia, sahabat lingkungan, sahabat sesama, dan sahabat
pengusaha.
Namun sejauh ini pandangan dari
beberapa mahasiswa berdomisili di Depok menilai sudah lebih baik dari
sebelumnya lalu, ada pula yang menilai bahwa infrastruktur kurang seperti
jalanan yang rusak tak kunjung diperbaiki, akses angkutan umum masih kurang,
dan ada pula yang menilai sejauh ini bisnis semakin baik karena kuliner di
Depok semakin banyak.
Semakin tumbuh pesat suatu kota maka
semakin tinggi pula peran pemerintah untuk memusyawarahkan warganya. Dalam hal
penyempurnaan lingkungan, kemanan dan ketertiban. Perpustakaan yang nyaman dan
bersih membuat daya tarik untuk datang menjadi tinggi. Kepala Seksi
Perpustakaan Ima Halimah mengatakan, saat ini perpustakaan sudah mempunyai
koleksi buku 22.000 eksemplar terdiri dari 11.369 judul yang sebagian bisa
dipinjam bagi yang sudah menjadi anggota. Untuk menjadi anggota pun tak bayar.
Dengan syarat usia minimal 6 tahun, berdomisili Depok untuk dari luar Depok
harus menyerahkan Kartu Tanda Penduduk.
Pada saat berkunjung ke perpustakaan umum cukup dengan menitipkan tas dan memberikan kartu tanda pengenal untuk jaminan peminjaman loker tersedia ruang untuk internet apabila sudah menjadi anggota perpustakaan, ruang baca yang luas dan sejuk membuat pembaca nyaman, perpustakaan yang buka pada hari Senin – Kamis ini buka pukul 08:00 – 15:00 kecuali hari Jum’at tutup pukul 16:00 dan pada hari Sabtu dan Minggu 08:00 – 15:00. Pengunjung yang datang mengisi buku hadir yang terletak di depan meja sebelum masuk ke perpustakaan. Gedung yang terlihat masih baru dan bersih. Buku-buku yang tersedia cukup beragam dari mulai buku teknologi, sastra, dan lain sebagainya dengan total pengunjung berjumlah 4.019 orang.
Zihan, seorang siswi kelas delapan
Sekolah Menengah Pertama Negeri 19 Depok yang berasal dari Beji mengatakan “perpustakannya
cukup nyaman, namun pandangannya untuk Depok fasilitasnya masih kurang dan
karena jalan rusak dan pepohonan yang kurang”, ketika sedang berada di
perpustakaan.
Sebagai penduduk di wilayah Depok, dari
sepuluh orang yang ditanya dan bertempat tinggal di Depok dan mahasiswa yang
aktif dari berbagai jenis kampus hanya ada dua orang saja yang mengetahui
tentang Perpustakaan Umum Depok. Memang ini menjadi pertanyaan untuk yang tak
mengetahui bahwasannya dengan merespon seperti hanya mengetahui perpustakaan
Universitas Indonesia yang memang terletak di Depok.
Siti, dari Ilmu Sosial Ilmu Politik
mengatakan “baru pertama kali berkunjung dan ia mengetahuinya dari media sosial
karena masih sibuk Jakarta - Depok ia tak memberikan keterangan tentang Depok”,
pada saat ditemui sedang memilih buku.
Cara mensosialisasikan perpustakaan
ini dari web yang tersedia seperti cek di website kap.depok.go.id/depokcorner.
Sarana dan prasarana memang akan terus ditingkatkan namun sejauh ini hal
tersebut masih kurang pada nyatanya. Masih ada anak yang tak mengenyam
pendidikan, tak ramah untuk anak, seperti anak-anak dijadikan pengamen
pemandangan itu cukup sering terlihat pada saat berada di terminal.
Rumah kumuh, kurangya fasilitas
publik dan jalan-jalan dengan minim penerangan serta jalan yang rusak serta
pepohonoan yang kurang. Kriminalitas pun semakin tinggi apabila ruang kerja
kurang dan sumber daya manusia yang kurang memahami pengetahuan.
Kurangnya perhatian pemerintah
menanggulangi masalah perkotaan memang menjadi hal yang selalu dibahas. Namun
untuk hasil nyata memang menunggu waktu yang lama. Membaca selain menjadi
kebutuhan juga untuk menambah wawasan, di-era yang digital ini membaca cukup
kurang. Dilihat dari persoalan perkotaan yang terjadi disuatu kota, Depok sudah
cukup baik menerima masukan dari masyarakat dan terlahirlah perpustakaan umum.
Kritik dan saran pada dasarnya
memang terus menjadi masukan untuk pemerintah untuk mengkoresi selama menjabat.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang yang berisi bahwa keberadaan ruang yang terbatas dan pemahaman
masyarakat yang berkembang terhadap penataan ruang yang transparan, efektif,
dan partisipatif agar terwujud ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan.
Perpustakaan memang dibutuhkan namun
sosialisasi untuk memperkenalkan perpustakaan umum masih kurang. Harapan
kedepan untuk menjadikan masyarakat akan sadar membaca perlu diadakannya
sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk memberikan pengenalan. Dan menambahkan
lagi fasilitas seperti penambahan buku. Walau buku-buku yang berada di
perpustakaan itu beli tapi perpustakaan itu tetap menerima apabila ada yang
ingin menyumbangkan.
Upaya lain untuk meningkatkan minat
baca masyarakat adalah dengan terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia
yang memiliki integritas dan profesional dalam pelayanan melalui berbagai
pelatihan dan bimbingan teknik. Panas terik, kemacetan di jalur Margonda Raya
memang sudah biasa apalagi semakin melesatnya pusat perbelanjaan. Kota
belimbing ya, belimbing adalah ikon Depok. Hal yang menarik untuk bahas seperti
kota penghasil belimbing, petani belimbing masih saja saat ini belum memiliki
kesejahteraan yang cukup. Budidaya ikan juga menarik untuk dibahas, karena
sebagian wilayahnya memiliki luas penangkaran ikan mas yang distribusikan dan
dijual.
Merubah minat baca menjadi hal yang
menjadi pekerjaan rumah untuk tiap kota dan membenahi perbaikan. Sebagai warga
apabila manaati aturan maka cukup membantu pemerintah dalam masa pemeritahannya.
Perubahan terjadi bukan karena dari orang lain namun harus dibentuk dari diri
sendiri. Di Depok stasiun, terminal, pusat perbelanjaan serta kantor polisi
yang jaraknya tak saling berjauhan membuat berpikir mengapa masih ada saja
orang yang mengemis, anak-anak yang mengamen dijalan, dan bahkan kaum
disabilitas yang tersungkur untuk mencari secercah rupiah.
Mari kita bantu untuk tetap memiliki
hati nurani, membantu sesama mulai dari hal yang sederhana namun bermanfaat
untuk orang banyak.