Sabtu, 08 Oktober 2016

GONG FACTORY, SEJARAH YANG BERDENGUNG MERDU

Tidak banyak yang mengetahui tempat pembuatan alat musik tradisional ini. Tempat yang tidak terlihat seperti pabrik, hanya sebuah rumah sederhana yang didalamnya menyimpan banyak kegiatan yang sudah tidak banyak ditemui di dunia modern seperti sekarang ini. Kereta Commuter Line menjadi sarana transportasi ke kota yang dikenal dengan sebutan kota hujan dan kota seribu angkot ini. Di kota inilah terdapat tempat pembuatan alat musik tradisional yang keberadaannya sudah dilupakan oleh sebagian masyarakat di era modernisasi. Gong Factory, atau orang – orang lebih mengenalnya dengan Gong Pancasan. Sesuai namanya tempat pembuatan gong ini berlokasi di Jalan Pancasan RT 02 / RW 03, Kampung Pancasan, Kelurahan Pasirjaya, Kota Bogor. Gong Factory ini merupakan satu – satunya tempat pembuatan gong yang ada di Jawa Barat. Maka tidak heran banyak daerah – daerah lain yang memesan gong dan alat musik tradisional lain ditempat ini. Untuk sampai ke tempat ini menggunakan kendaraan transportasi umum sebanyak dua kali dari Stasiun Bogor. Ramainya kota Bogor dengan kendaraan dan orang – orang yang menghabiskan akhir pekan. Gong Factory terletak di sisi kanan jalan, tepat persis di sebelah sisi kiri bangunan ini terdapat toko tempat jual beli burung dan sisi seberang dari rumah ini terdapat toko pusat jual beli beras. Tulisan Gong Factory yang menjadi penanda bahwa rumah tersebut adalah rumah tempat pembuatan alat musik tradisional.



Selain tulisan Gong Factory didepan rumah itu, hal yang menarik mengenai tempat ini adalah cetakan gong yang sedang dijemur persis didepan rumah ini.Ketika mencoba untuk melihat ke dalam, salah seorang pekerja ditempat ini mengatakan bahwa para pekerja yang lain sedang beristirahat, dan dianjurkan untuk menunggu sampai selesai jam istirahat tersebut. Tidak terlalu berbeda dengan rumah kebanyakan, yang membedakan rumah Gong Factory dengan rumah lain selain tulisan Gong Factory yang terpampang di sisi depan rumah ini. Cat berwarna coklat yang malah lebih menjurus ke warna oranye, dan beberapa tanaman kecil yang menghiasi halaman depan rumah.



Seorang pekerja kembali beraksi dengan peralatannya untuk membuat alat musik tradisional ini. Pak Basri, adalah tangan kanan dari sang pemilik Gong Factory ini. Dilihat dari raut mukanya Bapak Basri ini sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Kerutan – kerutan yang mewarnai muka beliau menandakan bahwa banyak sekali pengalaman yang telah beliau tempuh selama hidup. Peci berwarna hitam dan kaos yang berwarna putih dengan motif dan tulisan Bali, beliau menuturkan tentang Gong Factory ini. Beliau menjelaskan bahwa Gong Factory ini berdiri sudah hampir 300 tahun. Gong Factory pun sudah dikelola sampai generasi ke enam. Gong Factory membuat seperangkat alat musik gamelan, seperti saron, bonang, jenlong, gendang, dan lain sebagainya. Jadi tidak hanya gong yang diproduksi di tempat ini. Suara dentuman tembaga menjadi suatu hal yang pertama kali didengar ketika memasuki ruangan yang gelap. Rambut yang sudah memutih ditelan umur dan pengalaman, dan sebuah batu akik menghiasi tangan kanannya, Pak Basri kembali bercerita bahwa bahan baku dari gong ini, yaitu tembaga dan timah didapat dari Jakarta dan Bangka Belitung. Sebuah tembaga berdiameter kurang lebih 60 sentimeter sedang ditempa oleh tiga orang pekerja. Pak Basri menjelaskan bahwa para pekerja itu sedang menempa sebuah tembaga untuk dijadikan gong besar. Untuk gong ukuran 60 sentimeter, para pekerja di Gong Factory menyelesaikan 4 buah dalam sehari. Sedangkan untuk yang berukuran kecil yaitu 50 sentimeter para pekerja dapat menyelesaikan satu gong selama 1 jam.



Pak Basri menuturkan gong yang dibuat di Gong Factory ini disesuaikan dengan pesanan yang ada. Beliau memberi pernyataan dengan bangga kalau gong yang diproduksi di Gong Factory ini banyak diburu oleh orang – orang di berbagai daerah di Indonesia. Daerah di luar Pulau Jawa pun memesan gong di tempat ini. Dengan logat Sunda yang masih kental beliau mengatakan bahwa daerah seperti Medan, Lampung, Banten, Kalimantan, dan lain sebagainya memesan gong di Gong Factory ini. Tak hanya dari dalam negri saja yang memesan gong di tempat ini, orang asing juga sering memesan gong di Gong Factory ini. Negara Jerman, Amerika, Abudhabi, merupakan negara – negara yang sering memesan gong di tempat ini, ungkap Pak Basri sambil terus mengamati para pekerja yang lain. Harga yang ditawarkan oleh Gong Factory ini juga bisa dibilang cukup murah. Satu set alat musik gamelan dibandrol harga sekitar 55 – 80 juta rupiah. Tetapi jika ada pelanggan yang ingin membeli satuan bisa dibeli dengan harga 3,5 juta rupiah. Tetapi itu semua tergantung pesanan dan dari daerah mana pesanan itu datang. Pemesan dari dalam negri akan lebih murah dengan pesenan yang datang dari luar negri. Dengan kurang lebih 20 orang karyawan mereka sanggup menyanggupi pesanan – pesanan gong yang datang dari berbagai daerah, baik dalam maupun luar negri. Tangan yang sudah terlihat berkerut itu masih mampu mengangkat tembaga yang merupakan bahan utama pembuatan gong itu. Kedua tangan Pak Basri mengangkat tembaga untuk kemudian dibakar di blower buatan. Tembaga berdiameter 60 sentimeter itu dibakar dalam blower untuk memudahkan menempa. Nyala bunga – bunga api yang membumbung ke udara membuat mata saya berbinar melihat kejadian itu. Bunga – bunga api yang membumbung itu terlihat seperti nyala kembang api yang biasa kita lihat ketika malam tahun baru.


Salah satu pekerja bertugas memutar kipas blower, sedangkan 4 pekerja lain menunggu tembaga itu untuk kemudian bisa ditempa. Ketika tembaga ditempa, tembaga dan palu saling beradu menghasilkan suara yang indah, seperti suara musik pentatonis yang dihasilkan secara alami. Sebelumnya tembaga tersebut telah diberi rangka agar bisa membentuk bulat sesuai dengan bentuk gongnya. Setelah ditempa tembaga itu kembali di bakar. Begitu seterusnya hingga tembaga itu berubah menjadi sedikit cekung. Cuaca yang cukup terik dan udara yang kurang begitu bersahabat sedikit membuat saya kurang nyaman dalam ruangan ini. Bara api dan ruangan gelap sedikit membuat saya susah bernafas. Debu – debu pembakaran kayu untuk blower menjadikan sedikit mengganggu pernapasan. Selain itu dengan keadaan yang gelap membuat sedikit susah untuk melangkah dengan pasti karena ternyata di dalam ruangan yang tidak diberi lantai ubin ini terdapat beberapa lubang. Entah lubang – lubang ini berfungsi untuk apa. Maka dari itu harus ekstra hati – hati ketika melangkah.


Sedikit bergeser ke sudut ruangan, seorang pekerja yang sedang meraut atas bonang. Bonang adalah salah satu alat musik tradisional juga yang termasuk dalam perangkat gamelan. Bonang berukuran lebih kecil dari gong dan dalam memainkannya bonang disusun terlebih dahulu dengan jumlah 12 buah untuk kemudian bisa dimainkan dengan cara dipukul. Jika kita sering melihat warna bonang itu sedikit keemasan, itu adalah warna asli dari tembaganya. Tidak ada cat atau apapun yang melapisi bonang itu. Dengan menggunakan kupluk berwarna coklat yang sudah mulai kumal, dan selinting rokok menghiasi tangan kanannya, pekerja itu sibuk meraut sisi atas bonang agar terlihat lebih rapi. Tidak banyak orang yang mau mendedikasikan hidupnya untuk membuat alat musik tradisional yang bahkan keberadaannya sudah tidak lagi diminati oleh orang kebanyakan. Di bagian ruangan lain terdapat seorang bapak yang sedang mengamplas bonang. Jadi setelah bonang diraut tidak selesai sampai disitu saja. Bonang yang selesai diraut harus diamplas terlebih dahulu agar terlihat licin dan juga mengkilat. Bonang – bonang tersebut sudah mulai terlihat memancarkan warna keemasannya.



Di ruangan yang terpisah dari ruangan yang gelap tadi, ada seorang pekerja yang tengah sibuk meraut beberapa kayu untuk dijadikan tempat meletakan seperangkat alat musik gamelan yang tengah diproduksi. Beberapa kayu berukuran sedang berserakan di ruangan ini. Dan serbuk kayu menjadi lantai kedua di ruangan ini selain ubin berwarna putih. Bonang, jenlong, saron, dan beberapa alat musik gamelan yang berukuran kecil diletakan di kayu yang sudah diubah sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk meletakan alat musik tersebut. Tinggi tempat meletakan alat musik bonang, saron, jenlong, dan alat musik gamelan yang berukuran kecil lain kira – kira 30 sampai 50 sentimeter. Sedangkan untuk gong sendiri diletakan di kayu dengan cara digantung. Jadi kayu yang ada dibuat seperti tiang disisi kanan dan kirinya, lalu ditengah tiang itu dipasang kayu secara melintang. Kayu yang dipasang melintang itu terlebih dahulu diukir sedemikian rupa sehingga terlihat indah. Lalu ditengah – tengah kayu yang dipasang melintang itu dipasang paku untuk meletakan gongnya. Semua kayu – kayu yang dijadikan tempat untuk meletakan alat musik gamelan ini terlebih dahulu diukir agar terlihat indah. Ukirannya bermacam – macam tergantung pemesanan yang diinginkan. Saya menaiki tangga yang menghubungkan dengan ruangan lain.


Ketika saya memasuki ruangan lain, terlihat beberapa alat musik gamelan yang sudah mulai jadi. Bonang, saron, jenlong, dan gong sudah terlihat bagus dengan ukiran kayu yang tertampang di kayu penyangga alat musiknya. Gambar seperti gambar naga dan gambar bunga – bunga menambah cantik kayu – kayu tempat meletakan alat musik gamelan ini. Ruangan yang tidak begitu luas, beberapa barang masih ada yang berserakan karena belum dibereskan, dan beberapa alat musik gamelan yang sudah hampir jadi. Pak Basri melakukan pekerjaan menempa tembaga yang akan dijadikan gong. Saya melihat seorang perempuan yang juga tengah asyik memperhatikan kegiatan para pekerja.


Ditempat lain terdapat ruangan untuk menyimpan hasil dari gamelan tersebut.  ruangan ber-AC yang tidak terlalu dipenuhi oleh barang – barang lain. Hanya sebuah TV sedang menyala menyiarkan pertandingan sepak bola. Seperangkat gamelan yang diletakan ditempat ini adalah gamelan yang siap diantar kepada pemesannya. Untuk bisa sampai kepada pemesannya seperangkat gamelan ini bisa diantar kepada yang memesan. Tetapi jika ada yang membeli satuan bisa diantar dengan menggunakan jasa pengiriman barang.



Orang – orang yang datang dari Banten memesan gong dari Gong Factory ini, dan mereka sedang melihat apakah pesanan mereka sudah selesai ataukah masih dalam proses pengerjaan. Kesetiaan terhadap kebudayaan leluhur, kesetiaan kepada pendahulu mereka yang telah membangun tempat ini dari awal mula, hingga kesederhanaan yang mereka berikan didalam rumah Gong Factory ini sungguh terasa di hati. Apalagi Bogor adalah kota yang sekarang menjadi kota destinasi para pelancong dari daerah disekitarnya, Gong Factory bisa menjadi salah satu destinasi tempat wisata yang tidak hanya memberikan hiburan tentang bagaimana cara membuat gong tetapi juga memberikan edukasi atau pembelajaran tentang melestarikan kebudayaan leluhur. Berlibur tidaklah harus ke tempat mewah atau ke tempat yang indah serta jauh dari pusat kota. Dengan mengunjungi Gong Factory juga bisa dijadikan salah satu rekomendasi tempat berlibur. Commuter Line menjadi teman untuk kembali ke tempat asal. Pemandangan di luar terlihat samar karena kecepatan Commuter Line. Tersamar pula oleh rintik-rintik hujan yang membahasi jendela Commuter Line.

1 komentar: