Masyarakat Mentawai memiliki pandangan hidup, nilai-nilai atau norma yang menjadi landasan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Pandangan hidup tersebut berlandaskan pada ajaran Arat Sabulungan. Masyarakat Mentawai mempercayai bahwa seluruh benda yang ada di dunia ini ada pemiliknya terutama benda tersebut yang menyangkut alam, hutan dan lingkungan. Maka sudah menjadi kewajiban untuk kita menjaga benda-benda tersebut. Masyarakat Mentawai menganggap bahwa manusia dan alam sama, dalam arti keduanya harus mendapat perlakuan yang sama. Manusia butuh makan, minum, perhiasan, ketenagaan, keserasian dan keindahan maka alam juga demikian.
Ajaran Arat Sabulungan
dalam masyarakat Mentawai tercermin dalam perilaku dan sikap masyarakat
yaitu suka gotong royong, masyarakat Mentawai jujur dan pantang didustai,
jika sekali mendustai dan tidak jujur terhadap masyarakat Mentawai maka mereka
tidak akan percaya seumur hidup. Dalam hubungan sosial antara masyarakat
Mentawai mereka hidup secara damai dan tidak mengganggu satu sama lain. Kerja
sama dan solidaritas di dalam masyarakat Mentawai kuat.
Selain itu, banyak hal
pandangan hidup masyarakat Mentawai yang menjadi bagian dari praktek kehidupan
mereka. Masyarakat Mentawai mengenal ilmu gaib yang berdasarkan dua keyakinan
yaitu: Keyakinan akan adanya hubungan gaib dengan hal-hal yang walaupun berbeda
fungsinya, mirip wujud, warna, sebutan atau bunyinya, tetapi sama. Keyakinan
akan adanya kekuatan gaib yang sakti tetapi tak berkemauan atau bajou dalam
alam sekitar manusia.
Di Mentawai juga dikenal
dengan ilmu gaib protekstif yang juga sangat penting dalam ilmu-ilmu
obat-obatan dan penyembuhan penyakit secara tradisional, maupun segala macam
ilmu gaib destruktif yang disebut dengan ilmu sihir dan guna-guna. Ada juga
beberapa benda-benda keramat seperti: amat simagere, batu kerebau buluat, orang
simagere, dan tuddukat, serta sejumlah daun-daun serta akar-akar yang
berkhasiat seperti bakkat katsaila, berfungsi sebagai jimat penolak bahaya gaib
atau sebagai benda untuk mengundang roh yang baik.
Bagi masyarakat
Mentawai, alam dan waktu adalah yang sangat berharga. Hal itu disebabkan karena
mereka hidup dari alam dan mereka bercocok tanam untuk kebutuhan sehari-hari.
Alam dijadikan tempat untuk membangun kehidupan mereka karena mereka masih
hidup berpindah-pindah. Sedangkan waktu adalah mereka tidak mau melewatkan
waktu itu. Ketika fajar, mereka sudah siap-siap melakukan pekerjaan mereka dan
pulangnya malam. Berburupun kadang dilakukan pada malam hari.
Bekerja supaya
mendapatkan hidup dalam bahasa Mentawai dikenal dengan peribahasa yaitu: masua
rere, masua lolokkat (basah
kaki, basah leher) yang berarti kalau bekerja, akan mendapatkan makanan, kalau
berusaha maka kebutuhan akan terpenuhi. (RRA)
Sumber : http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1187/perilaku-dan-pandangan-hidup-suku-mentawai
0 komentar:
Posting Komentar